Postingan

Ekonomi untuk Penjual dan Pembeli

Ekonomi Penjual & Pembeli — Antologi Puisi  2025 Antologi Puisi · Esai Ekonomi · Referensi Nobel Ekonomi  untuk Penjual dan Pembeli Sebuah antologi puisi tentang transaksi, nilai, dan seni melipatgandakan kekayaan — bersandar pada kearifan para pemenang Nobel Ekonomi Di Mana Penjual Bertemu Pembeli, Lahirlah Peradaban Tentang Pasar sebagai Panggung Kemanusiaan Sebelum ada negara, sebelum ada agama yang tersistematisasi, sebelum ada filsafat yang tertulis — ada pasar. Di tepian sungai Tigris dan Eufrat, di persimpangan jalur sutra Karakoram, di pelabuhan-pelabuhan yang berbau garam dan rempah di Nusantara, manusia telah bertemu dengan satu tujuan sederhana namun revolusioner: menukar apa yang mereka miliki dengan apa yang mereka butuhkan. Transaksi adalah salah satu penemuan paling gemilang peradaban manusia — bahkan mungkin  yang paling gemilang . Esai antologi ini lahir dari keyakinan bahwa  ekonomi bukan ilmu dingin tentang angka-angka  — ia adalah ilmu te...

Demokratisasi Sains dan Mitos "Data Palsu": Menegakkan Hak Atas Kebenaran Ilmiah di Era AI

Demokratisasi Sains dan Mitos "Data Palsu": Menegakkan Hak Atas Kebenaran Ilmiah di Era AI Jakarta, 6 Juni 2026 – Skandal afiliasi fiktif The IMCD BioMed Research Foundation dan Al-BioMedicine Research Group dalam ISPPD 2026 bukan sekadar kasus pelanggaran etik individu. Ini adalah simptom dari kegagalan sistem hierarki ilmiah yang tertutup. Untuk menutup celah kecurangan di masa depan, kita tidak bisa hanya mengandalkan pengawasan internal yang sering kali lambat dan bias. Solusi jangka panjangnya adalah demokratisasi proses ilmiah. Demokratisasi sains berarti membuka ruang bagi setiap warga negara—bukan hanya akademisi berdasi—untuk memiliki akses, memahami, dan mengawal integritas data. Namun, dalam era digital ini, diskusi tentang integritas data menjadi semakin kompleks dengan kehadiran Kecerdasan Buatan (AI). Ada kesalahpahaman umum yang perlu diluruskan: bahwa data yang melibatkan AI secara otomatis adalah "palsu". 1. Hak Mengetahui Kebenaran Ilmiah adalah Ha...

Laboratorium Demokrasi Riset : Argumentasi Hukum Partisipasi Masyarakat Sipil dalam Riset

Gambar
Laboratorium Demokrasi Riset : Argumentasi Hukum Partisipasi Masyarakat Sipil dalam Riset 1. Pendahuluan: Ketika Monopoli Ilmu Pengetahuan Menghadapi Krisis Moral Skandal pemalsuan riset di Denmark pada 2026, di mana sejumlah peneliti Indonesia diduga menggunakan AI untuk memalsukan data, mengganti identitas, dan mencantumkan nama keluarga sebagai co-author demi mendapatkan travel grant, bukan sekadar kasus pelanggaran etik individual. Ini adalah gejala kegagalan sistemik tata kelola riset yang tersentralisasi secara eksklusif di tangan institusi akademik formal. Ketika mereka yang diberi mandat untuk memproduksi pengetahuan justru menjadi aktor utama kecurangan, maka pertanyaan mendasar yang muncul adalah: siapa yang berhak mengawasi dan memverifikasi kebenaran ilmiah jika mekanisme internal mandul? Jawabannya telah lama tersirat dalam hukum internasional dan konstitusi berbagai negara: masyarakat sipil—melalui organisasi non-pemerintah (ORNOP/LSM), komunitas akar rumput, ...

Pengembangan Pedoman Praktis Tata Kelola Kecerdasan Buatan Berkeadilan, Transparan, dan Selaras dengan Maqāṣid al-Sharī‘ah di Era Disrupsi Teknologi

Pengembangan Pedoman Praktis Tata Kelola Kecerdasan Buatan Berkeadilan, Transparan, dan Selaras dengan Maqāṣid al-Sharī‘ah di Era Disrupsi Teknologi Sebuah Tinjauan Futuristik-Komprehensif                                                                     Oleh : Asep Rohmandar dan Wulan Sari Dewi Abstrak Perkembangan kecerdasan buatan (AI) generatif yang eksponensial telah menciptakan kesenjangan serius antara kecepatan inovasi teknologis dan kesiapan kerangka etis yang mengaturnya, terutama dalam konteks masyarakat Muslim. Artikel ini bertujuan untuk mengembangkan pedoman praktis yang lebih rinci bagi tata kelola AI yang berkeadilan (`adl), transparan, dan selaras dengan tujuan-tujuan luhur syariah (maqāṣid al-sharī‘ah). Melalui pendekatan kualitatif berbasis systematic literature review terhadap 67 publikasi peer-rev...

Dunia Multipolar dan Quartpolar Jalan Kestabilan dan Kesejahteraan Global South?

Gambar
Dunia Multipolar dan Quartpolar  Jalan Kestabilan dan Kesejahteraan Global South?  🌍 Pendahuluan Sejarah politik internasional menunjukkan bahwa konfigurasi kekuatan global selalu berubah mengikuti dinamika ekonomi, teknologi, dan ideologi. Dari sistem bipolar era Perang Dingin hingga unipolar pasca runtuhnya Uni Soviet, dunia telah mengalami berbagai bentuk distribusi kekuasaan. Namun, pengalaman panjang itu memperlihatkan bahwa dominasi satu atau dua kekuatan besar seringkali menimbulkan ketegangan, ketidakadilan, dan ketimpangan. Oleh karena itu, gagasan multipolar bahkan quartpolar menjadi semakin relevan sebagai model baru yang lebih menjanjikan bagi Global South.   ⚖️ Kelemahan Sistem Unipolar dan Bipolar - Unipolar: Dominasi tunggal Amerika Serikat pasca-1990-an memang menciptakan stabilitas tertentu, tetapi juga melahirkan intervensi sepihak, ketidaksetaraan perdagangan, dan marginalisasi negara berkembang.   - Bipolar: Sistem AS vs Uni...

Menegakkan "Freedom Right For Alls" dalam Tata Kelola Berbasis Kearifan Ekologis dan Sosial

Esai komprehensif yang menggabungkan konsep Good Commonwealth Governance (Tata Kelola Persemakmuran yang Baik) dalam konteks wilayah Nusantara Sundaland, dengan landasan filosofis dan hukum Freedom Right For Alls (Kebebasan dan Hak untuk Semua). Esai ini membangun narasi bahwa tata kelola yang baik di wilayah kepulauan ini tidak bisa hanya mengimpor model Barat, tetapi harus mengakar pada realitas geografis "Sundaland" (wilayah daratan paparan Sunda yang terhubung secara ekologis dan kultural) serta nilai-nilai lokal, sambil menjamin hak asasi universal. Menegakkan "Freedom Right For Alls" dalam Tata Kelola Berbasis Kearifan Ekologis dan Sosial Pendahuluan: Mendefinisikan Ulang Ruang Politik di Sundaland Konsep "Sundaland" secara geologis merujuk pada paparan benua yang menghubungkan Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya selama zaman es. Namun, dalam konteks politik dan tata kelola kontemporer, "Nusantara Sundaland" dapat dimaknai se...

Daya Beli Ditengah Kesenjangan dan Kemiskinan

Dari diskusi panjang soal narasi “rupiah melemah menguntungkan”, kabinet gemuk, IHSG ambrol, kesejahteraan dosen, hingga fenomena pinjol, kita sampai pada inti krisis yang paling membahayakan: hancurnya daya beli rakyat di tengah inflasi tinggi dan kesenjangan yang lebar. Inilah dampak dan bahayanya secara komprehensif. 1. Inflasi Tinggi Menghantam Paling Keras Mereka yang Paling Miskin Saat inflasi melonjak—terutama pada kebutuhan pokok seperti pangan, energi, transportasi, dan obat-obatan—yang paling menderita adalah kelompok miskin dan rentan. Struktur pengeluaran mereka didominasi oleh kebutuhan primer (beras, minyak goreng, listrik), yang harganya justru paling terpukul saat rupiah melemah karena biaya impor dan distribusi melambung. Ini ibarat memperlebar luka di tubuh yang sudah lemah. 2. Kesenjangan Menjadi Eksplosif Inflasi dan pelemahan daya beli tidak dirasakan secara merata. Mereka yang memiliki aset—properti, emas, saham, valuta asing—justru bisa melindungi kekayaannya, ba...