Sustainable Economics of Education: Menjembatani Ketimpangan Ekonomi Uni Eropa dan Global South
JURNAL EKONOMI DAN PENDIDIKAN BERKELANJUTAN
Sustainable Economics of Education: Menjembatani Ketimpangan Ekonomi Uni Eropa dan Global South
Abstrak
Penelitian ini menganalisis dampak pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan pendapatan (Gini ratio) di Uni Eropa terhadap negara-negara Global South melalui perspektif ekonomi pendidikan berkelanjutan (sustainable economics of education). Menggunakan pendekatan tinjauan pustaka sistematis terhadap 48 publikasi akademik terindeks (2021-2026), studi ini menemukan bahwa meskipun investasi dalam pendidikan diakui sebagai instrumen paling strategis untuk mencapai pertumbuhan sekaligus keberlanjutan, terdapat kesenjangan struktural yang signifikan antara kebijakan ekonomi UE dan kapasitas pendidikan Global South. Temuan utama menunjukkan tiga hal. Pertama, pendidikan berkelanjutan dapat menjadi jembatan untuk mengatasi dampak negatif kebijakan sepihak UE seperti CBAM, namun implementasinya terhambat oleh defisit pendanaan yang mencapai US$100 miliar per tahun untuk pencapaian SDG 4 di negara berpendapatan rendah dan menengah. Kedua, paradigma ekonomi pembangunan tradisional yang berfokus pada pertumbuhan PDB terbukti mengabaikan keadilan sosial dan kelestarian lingkungan, sehingga diperlukan reorientasi menuju model seperti Well-being Economics dan Doughnut Economics yang mengintegrasikan pendidikan berkualitas sebagai komponen inti. Ketiga, program pendidikan berkelanjutan seperti Eco-Schools dan TVET hijau menunjukkan potensi transformatif, namun risikonya adalah reproduksi ketimpangan global melalui mekanisme adaptasi lokal yang membedakan kapasitas dan aspirasi peserta didik berdasarkan status ekonomi. Tantangan ke depan mencakup ketimpangan akses teknologi pendidikan, defisit legitimasi kebijakan pendidikan UE di Global South, serta jebakan utang yang menyebabkan separuh negara di dunia membayar bunga utang lebih besar daripada anggaran pendidikan. Penelitian ini merekomendasikan reformulasi kebijakan pendidikan UE yang berpihak pada keadilan kognitif dan ekologis, peningkatan pendanaan pendidikan berbasis kebutuhan, serta penguatan kemitraan Selatan-Selatan dalam pengembangan kapasitas pendidikan berkelanjutan.
Kata kunci: Ekonomi Pendidikan Berkelanjutan, Ketimpangan Global, Uni Eropa, Global South, SDG 4, Keadilan Pendidikan
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang: Persimpangan Kritis antara Ekonomi dan Pendidikan
Dunia saat ini berada di persimpangan kritis di mana tantangan ekonomi, sosial, dan ekologis saling terkait erat. Kita menyaksikan disrupsi struktural yang signifikan, didorong oleh kebutuhan mendesak untuk mengoreksi fokus historis pada pertumbuhan ekonomi yang tidak terkendali dan akses terhadap sumber daya yang tidak setara, sehingga memerlukan transformasi fundamental sistem ekonomi, sosial, dan pendidikan kita. Dalam konteks inilah, di mana kita mencari model alternatif yang lebih sesuai dengan realitas, pendidikan muncul sebagai kekuatan pendorong perubahan. Pendidikan sudah memainkan peran dalam desain sosio-ekonomi-politik. Dengan desain yang tepat, pendidikan dapat membantu mendefinisikan pemahaman kita tentang keberlanjutan di luar seleksi tujuan politik dan ekonomi serta dimensi yang melayani diri sendiri.
Ekonomi pendidikan berkelanjutan (sustainable economics of education) muncul sebagai kerangka analitis yang mengintegrasikan tiga dimensi: (1) ekonomi pendidikan sebagai investasi modal manusia, (2) ekonomi keberlanjutan sebagai kerangka alokasi sumber daya antargenerasi, dan (3) keadilan distributif sebagai prinsip pemerataan akses dan manfaat. Ketiga dimensi ini menjadi sangat relevan ketika menganalisis hubungan antara Uni Eropa sebagai kawasan maju dengan tingkat ketimpangan internal yang stagnan (Gini coefficient 29,4-29,6) dan negara-negara Global South yang justru menghadapi beban ganda dari kebijakan ekonomi UE sekaligus kesenjangan pendidikan yang akut.
Keunikan penelitian ini terletak pada upaya menjembatani dua literatur yang selama ini berjalan terpisah: literatur tentang dampak geoekonomi UE terhadap Global South dan literatur tentang ekonomi politik pendidikan berkelanjutan. Dengan menyatukan kedua perspektif ini, penelitian ini menawarkan pemahaman yang lebih holistik tentang bagaimana kebijakan ekonomi Utara mempengaruhi kapasitas pendidikan Selatan, dan sebaliknya, bagaimana investasi dalam pendidikan berkelanjutan dapat menjadi strategi adaptasi dan transformasi bagi Global South.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan kerangka tersebut, penelitian ini berupaya menjawab tiga pertanyaan utama. (1) Bagaimana hubungan timbal balik antara kebijakan ekonomi Uni Eropa dan kapasitas pendidikan berkelanjutan di Global South? (2) Apa saja hambatan struktural dalam implementasi pendidikan berkelanjutan di Global South dalam konteks tekanan ekonomi eksternal dari UE? (3) Bagaimana reformulasi kebijakan pendidikan berkelanjutan dapat menjadi strategi adaptasi dan transformasi bagi Global South menghadapi ketimpangan struktural hubungan Utara-Selatan?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan utama penelitian ini adalah mengembangkan kerangka analitis ekonomi pendidikan berkelanjutan yang aplikatif untuk memahami dan merespons dinamika ketimpangan antara UE dan Global South. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan memperkaya literatur interdisipliner yang mempertemukan ekonomi pendidikan, ekonomi pembangunan, dan studi keberlanjutan. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi para pembuat kebijakan di kedua kawasan dalam merumuskan strategi investasi pendidikan yang berkeadilan dan responsif terhadap tantangan ekonomi global.
1.4 Metodologi
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan pustaka sistematis yang diperkaya dengan analisis wacana kritis terhadap dokumen kebijakan. Sumber data utama mencakup jurnal akademik terindeks dari basis data Scopus, Web of Science, dan ERIC periode 2021-2026, laporan resmi organisasi internasional (UNESCO, World Bank, EU, UNCTAD), serta dokumen kebijakan pendidikan UE dan Global South. Analisis dilakukan dengan memadukan kerangka sustainable economics of education yang dikembangkan dari integrasi teori modal manusia (human capital theory), ekonomi ekologis (ecological economics), dan teori keadilan distributif (distributive justice).
2. Kerangka Teoretis: Ekonomi Pendidikan Berkelanjutan
2.1 Evolusi Pemikiran: dari Modal Manusia ke Kapital Manusia Strategis
Secara tradisional, investasi dalam pendidikan dipandang melalui lensa teori modal manusia (human capital theory), yang menekankan kontribusi pendidikan terhadap peningkatan produktivitas individu dan pertumbuhan ekonomi agregat. Bukti empiris menunjukkan bahwa tambahan satu tahun sekolah meningkatkan pendapatan sekitar 10 persen per tahun, dan pendidikan merupakan salah satu instrumen paling kuat untuk mengurangi kemiskinan dan ketimpangan, sekaligus meletakkan dasar bagi pertumbuhan yang berkelanjutan.
Namun, penelitian-penelitian terkini menunjukkan bahwa hubungan antara pendidikan dan pembangunan berkelanjutan jauh lebih kompleks. Studi oleh Lisi (2025) yang mencakup 81 negara dalam periode 11 tahun (2012-2022) menemukan bahwa modal manusia generik (pendidikan) bukanlah sekadar mesin pertumbuhan ekonomi, tetapi juga, secara potensial, arsitek pembangunan berkelanjutan, karena pendidikan juga diperlukan untuk meningkatkan kesadaran akan isu-isu lingkungan. Hasil studi ini menunjukkan bahwa investasi dalam pendidikan adalah satu-satunya kebijakan yang dapat mencapai keduanya——pertumbuhan dan keberlanjutan.
Pergeseran paradigma dari human capital ke strategic human capital menjadi semakin penting dalam konteks transisi hijau. Studi oleh Li, Ibrahim, dan Alomair (2026) yang menginvestigasi hubungan non-linear antara investasi pendidikan, pembentukan modal manusia, dan hasil keberlanjutan di 60 negara berpendapatan rendah dan menengah (LMICs) dari tahun 2000 hingga 2022 mengungkapkan temuan penting. Terdapat ambang batas fiskal sekitar 4,5% dari PDB, di mana pengeluaran pendidikan secara signifikan memperkuat konversi hasil pembelajaran menjadi kapabilitas pertumbuhan berkelanjutan. Di bawah ambang batas ini, keuntungan dari pendidikan tetap terbatas karena daya serap yang lemah dan inefisiensi institusional.
2.2 Kritik terhadap Paradigma Pembangunan Ekonomi Tradisional
Studi kritis oleh Pamella (2024) secara sistematis mengeksaminasi hubungan antara pembangunan ekonomi dan SDG 4——Pendidikan Berkualitas dalam konteks pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (ESD). Analisis ini mengungkapkan bahwa paradigma pembangunan ekonomi tradisional, yang sangat berfokus pada pertumbuhan PDB, sering mengabaikan keadilan sosial dan kelestarian lingkungan, sehingga mengakibatkan kegagalan dalam memajukan kesejahteraan manusia secara holistik. Sebaliknya, mengintegrasikan pendidikan berkualitas sebagai komponen inti dari strategi pembangunan dapat secara signifikan berkontribusi pada kemajuan menuju pembangunan berkelanjutan. Pendidikan memberdayakan individu dengan membekali mereka pengetahuan dan keterampilan, mendorong pemikiran kritis, dan mempromosikan pengelolaan lingkungan. Hasilnya, pendidikan membantu menyelaraskan operasi ekonomi dengan tujuan sosial dan lingkungan yang lebih luas.
Penelitian ini juga mengeksplorasi berbagai kerangka ekonomi alternatif seperti Green Economy, Well-being Economics, dan Doughnut Economics. Kerangka-kerangka ini menawarkan perspektif yang lebih seimbang yang mempertimbangkan batasan ekologis dan keadilan sosial, berbeda dengan model pertumbuhan-centric tradisional. Rekomendasi kebijakan yang dihasilkan mencakup perlunya reformasi sistem pendidikan untuk memprioritaskan pemikiran kritis dan keberlanjutan, serta investasi dalam pelatihan guru dan pembelajaran interdisipliner.
2.3 Dimensi Keadilan dalam Pendidikan Berkelanjutan
Pendekatan keadilan menjadi semakin sentral dalam literatur pendidikan berkelanjutan kontemporer. Buku Education as and for Justice in the Global South (Milligan et al., 2025) mengeksplorasi potensi transformatif pendidikan dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 13 (aksi iklim), 16 (perdamaian, keadilan, dan institusi yang kuat), dan 10 (mengurangi ketimpangan). Melalui studi kasus sekolah menengah di Nepal, Peru, dan Uganda, buku ini mengkritik asumsi linear tentang kemajuan dari pendidikan menuju perubahan sosial. Sebaliknya, buku ini mengadvokasi pendidikan yang digerakkan oleh keadilan dan memperkenalkan kerangka keadilan terintegrasi yang mencakup keadilan lingkungan, epistemik, transisional, dan sosial.
Konsep keadilan epistemik menjadi sangat relevan dalam konteks hubungan Utara-Selatan. Pendidikan berkelanjutan yang dirancang di negara maju seringkali mengabaikan pengetahuan lokal, kearifan tradisional, dan konteks sosial-budaya Global South. Hal ini menciptakan bentuk baru ketidakadilan di mana standar dan kurikulum pendidikan ditentukan oleh Utara, sementara Selatan hanya menjadi penerima pasif.
3. Dinamika Ketimpangan: Antara Uni Eropa dan Global South
3.1 Ketimpangan Pendidikan Global dalam Angka
Data UNESCO GEM Report 2025 mengungkapkan gambaran yang mengkhawatirkan tentang kesenjangan pendidikan global. Partisipasi anak usia satu tahun sebelum memasuki sekolah dasar stagnan di sekitar 75% sejak 2015, dan jika disesuaikan dengan fakta bahwa seperlima dari anak-anak ini justru bersekolah di tingkat dasar, angka partisipasi PAUD yang sesungguhnya mendekati 60%. Sejak 2015, angka anak tidak bersekolah secara global hanya turun setengah poin persentase menjadi 17% pada 2023. Dalam angka absolut, meskipun 101 juta lebih anak kini bersekolah, populasi anak tidak bersekolah justru bertambah 8 juta, mencapai total 272 juta. Jumlah ini meningkat menjadi 285 juta jika data tambahan digunakan untuk memperhitungkan dampak konflik bersenjata.
Ketimpangan dalam hasil belajar bahkan lebih tajam. Di negara berpendapatan rendah, hanya sekitar 10% anak yang mencapai tingkat kemahiran membaca. Di akhir sekolah dasar, hanya 17% anak di negara berpendapatan rendah yang mahir, dibandingkan dengan 93% di negara berpendapatan tinggi. Anak-anak terkaya memiliki kemungkinan 5 kali lebih besar untuk menyelesaikan sekolah menengah dibandingkan anak-anak termiskin.
Kesenjangan ini diperparah oleh krisis pendanaan. UN Global Education Monitoring Report memperkirakan bahwa kesenjangan pendanaan untuk mencapai SDG 4 di negara berpendapatan rendah dan menengah mencapai US$100 miliar per tahun selama periode 2024-2030. Bahkan, 3,4 miliar orang tinggal di negara yang menghabiskan lebih banyak uang untuk pembayaran bunga utang daripada untuk kesehatan atau pendidikan, dan negara berkembang menghadapi kesenjangan pendanaan tahunan sekitar US$4 triliun.
3.2 Dari Utara ke Selatan: Kebijakan Ekonomi UE dan Dampaknya pada Pendidikan
Kebijakan ekonomi Uni Eropa, terutama CBAM (Carbon Border Adjustment Mechanism), EPA (Economic Partnership Agreements), dan Global Gateway, memiliki implikasi signifikan terhadap kapasitas fiskal dan pendidikan di Global South. Global Gateway UE mengubah fokus kebijakan pembangunan dari pengurangan kemiskinan menjadi investasi infrastruktur untuk mendorong pembangunan ekonomi. Pergeseran ini juga telah mempengaruhi strategi dukungan sektor pendidikan UE dengan memperkenalkan fokus pada keterampilan kerja (employability) dan membidik peran pendidikan yang memungkinkan bagi investasi ekonomi.
Pendekatan ini bermasalah karena dua alasan. Pertama, pendekatan ini mereduksi pendidikan menjadi sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja Eropa, mengabaikan dimensi pendidikan yang lebih luas seperti pembentukan karakter, kewarganegaraan global, dan pengembangan kapasitas kritis. Kedua, pendekatan ini menciptakan ketergantungan struktural di mana kurikulum dan standar pendidikan di Global South ditentukan oleh kebutuhan ekonomi Utara, bukan oleh prioritas pembangunan lokal.
3.3 Eco-Schooling: Antara Emansipasi dan Reproduksi Ketimpangan
Program Eco-Schools, sebagai program sekolah berkelanjutan terbesar di dunia, menjadi ilustrasi sempurna tentang bagaimana pendidikan berkelanjutan dapat justru memperkuat ketimpangan global jika tidak dirancang dengan sensitif terhadap konteks. Penelitian oleh Bylund, Knutsson, dan Lindberg (2024) yang menggunakan teori biopolitik dan kerja lapangan di Rwanda, Afrika Selatan, Swedia, dan Uganda mengeksplorasi bagaimana Eco-Schools dijalankan di konteks dengan kondisi sosial-ekonomi yang sangat berbeda. Analisis menunjukkan bagaimana siswa miskin dididik untuk subsistensi wirausaha mikro dan swadaya masyarakat, sedangkan siswa kaya ditargetkan sebagai konsumen massa dan dibuat sadar akan masalah yang ada di tempat lain untuk 'orang lain'.
Lebih jauh, penelitian ini menyimpulkan bahwa rasionalitas dan teknik biopolitik yang menjadi dasar operasi Eco-Schools merusak efektivitas program dalam menantang ketimpangan. Temuan ini mendukung penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa mode adaptasi lokal dari pendidikan keberlanjutan saat ini berisiko mereproduksi pemisahan biopolitik global antara kaya dan miskin. Dengan kata lain, meskipun program ini memiliki niat baik, mekanisme implementasinya justru mereproduksi hierarki global yang ada.
4. Strategi Pendidikan Berkelanjutan bagi Global South
4.1 Infusi Keberlanjutan dalam Kurikulum Ekonomi
Salah satu strategi kunci adalah mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam pendidikan ekonomi di semua jenjang. Penelitian Mizzi (2023) yang mengeksplorasi pengajaran dan pembelajaran ekonomi sekolah menengah di Malta menemukan bahwa pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dipandang oleh para guru ekonomi sebagai tema yang menonjol. Para guru tersebut mendidik siswa mereka untuk merefleksikan bagaimana pilihan mereka tidak hanya mempengaruhi diri mereka sendiri tetapi juga orang lain, dan menumbuhkan kesadaran terkait aspek keadilan sosial. Implikasi dari penelitian ini dapat membantu guru, pendidik guru, dan peneliti dalam refleksi dan upaya mereka yang berkaitan dengan peningkatan dimensi keberlanjutan dalam pendidikan ekonomi sekolah dan mata pelajaran lainnya.
Untuk konteks Global South, infusi keberlanjutan dalam kurikulum ekonomi memerlukan pendekatan yang kontekstual dan dekolonial. Studi oleh Piyasena, Mohammed, dan Dhanapala (2025) tentang pendidikan manajemen di Sri Lanka menunjukkan bagaimana kerangka metaforis dapat menjembatani kapitalisme akademik dengan pencapaian SDG dalam pengaturan dengan sumber daya terbatas.
4.2 Pengembangan Keterampilan Hijau dan TVET Berkelanjutan
Transisi menuju ekonomi rendah karbon menuntut peningkatan pengiriman keterampilan hijau (green skills) di seluruh dunia. Namun, di banyak negara Global South, sektor pendidikan masih tertinggal dalam mengintegrasikan keterampilan hijau. Di Afrika, Kenya memiliki pertumbuhan tertinggi dalam keterampilan hijau, tetapi didominasi oleh sektor pertanian dan energi, sementara sektor pendidikan masih tertinggal.
Upaya untuk memperkuat kapasitas TVET dalam keterampilan hijau telah dilakukan di berbagai negara. Di Ghana, lebih dari 60 pemimpin dan fasilitator TVET dilatih untuk mengintegrasikan keterampilan hijau dan praktik berkelanjutan ke dalam pendidikan teknis. Inisiatif Selatan-Selatan juga penting, seperti yang direkomendasikan dalam studi tentang transisi energi adil di Brasil dan Afrika Selatan, di mana pertukaran pengetahuan tentang keterampilan hijau dan pengembangan pekerjaan lintas negara berkembang sangat didorong.
Pendekatan ekonomi sirkular juga mulai diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan. Sebuah penelitian di Nigeria meneliti peran institusi pendidikan tinggi dalam mengembangkan keterampilan untuk ekonomi plastik sirkular, dengan temuan bahwa mahasiswa universitas Nigeria lebih mungkin berpartisipasi dalam program-program yang relevan. Inisiatif Erasmus+ seperti CircuwasteVETAfrica juga mempromosikan VET dalam manajemen limbah hijau dan ekonomi sirkular untuk meningkatkan pekerjaan berkelanjutan bagi pemuda dan perempuan.
4.3 Pendekatan Keadilan dalam Pendidikan Lingkungan
Pengembangan pendekatan keadilan dalam pendidikan lingkungan menjadi semakin penting. Sebuah penelitian terbaru mengkonseptualisasikan pendekatan pedagogis terhadap pendidikan lingkungan yang menanamkan berbagai bentuk keadilan dan menggabungkan enam dimensi. Pendekatan ini mengatasi keterbatasan pendekatan kurikuler dan pedagogis dominan terhadap pendidikan lingkungan, terutama dalam konteks sekolah menengah di Global South. Penelitian ini juga menyajikan studi kasus dari Peru dan Uganda yang menunjukkan bagaimana ketidakadilan lingkungan dan sosial saling terkait dan tertanam dalam pengalaman hidup anak muda.
Pendidikan untuk keadilan iklim perlu responsif terhadap konteks, berakar pada pengetahuan dan realitas kehidupan masyarakat, terintegrasi dengan ekologi kontekstual dan alam, serta secara bermakna mengakui pengetahuan masyarakat adat. Selain itu, posisi Global South harus diprioritaskan dalam semua musyawarah tentang pendidikan untuk keadilan iklim.
5. Tantangan ke Depan
5.1 Defisit Pendanaan dan Krisis Utang
Tantangan paling mendesak adalah defisit pendanaan pendidikan yang parah di Global South. Pemotongan bantuan luar negeri dari AS dan donor lain meninggalkan universitas Global South menghadapi kekosongan pendanaan besar tanpa substitusi yang jelas. Pendanaan eksternal telah lama memainkan peran penting dalam membiayai sistem pendidikan tinggi di seluruh Global South. Dengan berkurangnya bantuan luar negeri, negara-negara berkembang menghadapi tebing fiskal untuk pendidikan.
Krisis utang yang melanda banyak negara Global South semakin memperburuk situasi. Separuh negara di dunia sekarang menghabiskan lebih banyak uang untuk pembayaran bunga utang daripada untuk pendidikan. Kesenjangan ini menciptakan jebakan utang-pendidikan yang ganas: utang menguras ruang fiskal untuk investasi pendidikan, sementara rendahnya kualitas pendidikan membatasi kapasitas untuk pertumbuhan ekonomi yang dapat membantu melunasi utang.
5.2 Fragmentasi Kebijakan dan Deglobalisasi Pendidikan
Tren deglobalisasi dan fragmentasi geopolitik berdampak pada arsitektur kerja sama pendidikan internasional. Kerangka SDG 4, meskipun memiliki aspirasi universal, menghadapi tantangan implementasi yang signifikan. Banyak negara berjuang untuk mencapai target global karena pendanaan yang tidak memadai, kapasitas institusional yang terbatas, dan ketidaksetaraan historis yang persisten. Kritikus juga berpendapat bahwa label Global South sering menyederhanakan keragaman di dalam wilayah ini, berpotensi mengaburkan konteks historis, budaya, dan sosial unik yang membentuk tantangan pendidikan mereka.
Di Amerika Latin, misalnya, label Global South sering gagal memperhitungkan warisan kolonial spesifik dan dinamika sosio-politik regional, yang berbeda secara signifikan dari Afrika atau Asia. Akibatnya, menerapkan label umum seperti Global South dapat membatasi pemahaman nuansa tentang realitas pendidikan di wilayah tersebut, menyoroti perlunya analisis yang lebih sensitif terhadap konteks dalam merancang reformasi pendidikan.
5.3 Ketimpangan Digital dan Kesenjangan Teknologi
Pandemi COVID-19 telah mempercepat digitalisasi pendidikan, tetapi juga memperlebar kesenjangan digital antara Utara dan Selatan. Akses terhadap perangkat, konektivitas internet, dan konten digital yang berkualitas masih sangat tidak merata. Sebuah studi yang mengkaji kesenjangan EdTech di komunitas berpenghasilan rendah di Afrika Sub-Sahara (2015-2024) meneliti hubungan kompleks antara adopsi EdTech dan pemerataan pendidikan, dengan fokus pada bagaimana alat digital mempengaruhi hasil pembelajaran dalam konteks berpenghasilan rendah. Temuan awal menunjukkan bahwa meskipun EdTech memiliki potensi sebagai alat inklusi, implementasinya seringkali justru memperkuat ketimpangan yang ada karena akses yang tidak setara dan kurangnya konten yang relevan secara lokal.
5.4 Reproduksi Ketimpangan melalui Pendidikan Berkelanjutan
Paradoks terbesar yang dihadapi adalah risiko bahwa pendidikan berkelanjutan, yang seharusnya menjadi alat emansipasi, justru dapat mereproduksi ketimpangan global. Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian Eco-Schools, mekanisme adaptasi lokal seringkali beroperasi dengan asumsi yang berbeda tentang kapasitas dan aspirasi peserta didik berdasarkan status ekonomi mereka. Siswa di negara miskin dididik untuk bertahan hidup dan mandiri secara lokal, sementara siswa di negara kaya dididik untuk menjadi konsumen global yang sadar lingkungan.
Hal ini menciptakan apa yang dapat disebut sebagai biopolitical divide dalam pendidikan berkelanjutan, di mana tujuan universal keadilan dan keberlanjutan diterjemahkan ke dalam praktik yang berbeda secara fundamental berdasarkan posisi dalam hierarki global. Mengatasi paradoks ini memerlukan perubahan paradigma dari sekadar adaptasi lokal menuju transformasi struktural yang secara aktif menantang ketidaksetaraan yang mendasari.
6. Rekomendasi: Menuju Ekonomi Pendidikan Berkelanjutan yang Berkeadilan
6.1 Bagi Uni Eropa dan Komunitas Internasional
Pertama, alokasi pendapatan CBAM untuk pendidikan berkelanjutan di Global South. Minimal 30% pendapatan CBAM harus dialokasikan untuk dana pendidikan berkelanjutan yang dikelola secara multilateral, dengan fokus pada pengembangan kapasitas TVET hijau, pelatihan guru, dan pengembangan kurikulum yang kontekstual.
Kedua, reformulasi kebijakan pendidikan dalam kerangka Global Gateway. UE perlu menggeser fokus dari pendekatan employability-driven yang sempit menuju pendekatan capability-building yang holistik. Pendidikan harus dipandang sebagai tujuan pembangunan itu sendiri, bukan sekadar instrumen untuk kepentingan ekonomi UE.
Ketiga, peningkatan pendanaan untuk SDG 4. Komunitas internasional perlu memobilisasi setidaknya US$100 miliar per tahun yang dibutuhkan untuk mencapai target pendidikan global, dengan mekanisme pendanaan yang lebih adil dan berkelanjutan, termasuk restrukturisasi utang untuk negara-negara yang menghadapi krisis fiskal.
6.2 Bagi Global South
Pertama, pengembangan kurikulum pendidikan berkelanjutan yang berakar pada konteks lokal. Negara Global South perlu mengembangkan kerangka kurikulum yang mengintegrasikan kearifan lokal, pengetahuan ekologis tradisional, dan konteks sosial-ekonomi spesifik, alih-alih sekadar mengadopsi model dari Utara.
Kedua, penguatan kemitraan Selatan-Selatan dalam pendidikan. Inisiatif seperti pertukaran pengetahuan tentang keterampilan hijau, pengembangan bersama konten pendidikan, dan mekanisme pendanaan bersama perlu diperkuat untuk mengurangi ketergantungan pada bantuan Utara.
Ketiga, advokasi untuk keadilan epistemik dalam forum global. Negara Global South perlu secara kolektif menekankan pentingnya pengakuan terhadap pengetahuan lokal dan konteks spesifik dalam perumusan agenda pendidikan global, termasuk dalam kerangka SDG 4 pasca-2030.
6.3 Agenda Penelitian Lanjutan
Penelitian ini membuka beberapa agenda lanjutan. Pertama, studi kuantitatif komparatif tentang efektivitas berbagai model pendidikan berkelanjutan di berbagai konteks Global South, dengan kontrol terhadap variabel struktural seperti tingkat pendanaan, kapasitas institusional, dan karakteristik sosial-budaya. Kedua, penelitian longitudinal tentang dampak jangka panjang program Eco-Schools dan TVET hijau terhadap mobilitas sosial dan ekonomi peserta didik. Ketiga, studi etnografi tentang proses adaptasi lokal pendidikan berkelanjutan dan bagaimana adaptasi tersebut membentuk aspirasi dan identitas peserta didik. Keempat, penelitian aksi partisipatif yang mengembangkan dan menguji model pendidikan berkelanjutan yang dikembangkan secara kolektif oleh komunitas lokal Global South.
7. Simpulan
Penelitian ini telah menunjukkan bahwa ekonomi pendidikan berkelanjutan menawarkan kerangka analitis yang kuat untuk memahami dan merespons ketimpangan struktural dalam hubungan antara Uni Eropa dan Global South. Temuan utama menunjukkan bahwa investasi dalam pendidikan berkelanjutan bukan hanya kebijakan yang etis, tetapi juga strategis——pendidikan adalah satu-satunya kebijakan yang dapat mencapai pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan secara simultan. Namun, potensi transformatif ini hanya dapat terwujud jika pendidikan berkelanjutan dirancang dengan prinsip keadilan——keadilan distributif dalam alokasi sumber daya, keadilan prosedural dalam pengambilan keputusan, dan keadilan epistemik dalam pengakuan terhadap pengetahuan dan konteks lokal.
Tantangan ke depan sangat berat: defisit pendanaan US$100 miliar per tahun, krisis utang yang menguras ruang fiskal untuk pendidikan, risiko reproduksi ketimpangan melalui program yang didesain dengan baik sekalipun, dan fragmentasi geopolitik yang mengancam kerja sama multilateral. Namun, di tengah tantangan ini, terdapat peluang untuk reimajinasi: reimajinasi tentang apa itu pendidikan, apa itu pembangunan, dan apa itu hubungan yang adil antara Utara dan Selatan.
Pada akhirnya, ekonomi pendidikan berkelanjutan bukan sekadar tentang menghitung return on investment dari sekolah atau pelatihan. Ini tentang mempertanyakan asumsi-asumsi dasar yang mendasari sistem ekonomi dan pendidikan kita saat ini, dan membayangkan alternatif di mana pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan tidak lagi dipertentangkan, tetapi dikejar secara simultan melalui pemberdayaan manusia melalui pendidikan. Seperti yang diingatkan oleh Pamella (2024), kita perlu beralih dari model pembangunan yang berpusat pada pertumbuhan ke model yang mempertimbangkan dan menyeimbangkan tujuan ekonomi, sosial, dan lingkungan, memastikan masa depan yang berkelanjutan dan adil.
Daftar Pustaka
Artikel Jurnal Akademik
Bylund, L., Knutsson, B., & Lindberg, J. (2024). Apping lunch and earning keep: Eco-Schooling in an unequal world. Environmental Education Research, 665-681.
Lisi, G. (2025). Growth, education and sustainability: an overview. International Journal of Environment and Sustainable Development, 24(2), 201-215.
Li, L., Ibrahim, R. L., & Alomair, A. (2026). Educating for a green future: Strategic human capital and the non-linear path to sustainability in low- and middle-income countries. International Journal of Educational Development, 121.
Milligan, L. O., Balarin, M., Wilder, R., Nuwategeka, E., & Paudel, M. (2025). Education as and for Justice in the Global South: Case Studies from Nepal, Perú and Uganda. Bristol University Press.
Mizzi, E. (2023). Infusing Sustainability in Secondary School Economics Education. International Journal for Business Education, 165(1), Article 3.
Morales, L. (2024). Education for Sustainability – Are we Forgetting the Economic Dimension? Irish Journal of Academic Practice, 11(2).
Pamella, S. N. (2024). Rethinking the Paradigm of Economic Development: A Critical Examination of its Intersection with Sustainable Development Goal 4 – Quality Education. Journal of Education and Social Medicine, 96-120.
Piyasena, K.G.C.C., Mohammed, L. A., & Dhanapala, R. M. (2025). Bridging Market and Sustainability Metaphorical Constructs for SDG Integration in Outcome-Based Management Education in Sri Lanka. Journal of Lifestyle and SDGs Review.
Laporan Lembaga Internasional
European Commission. (2023). Autumn 2023 Economic Forecast. Brussels: European Commission.
Eurostat. (2024). Living conditions in Europe - income distribution and income inequality. Luxembourg: Publications Office of the European Union.
UNCTAD. (2025). 2025 Trade and development report: Chapter V - New policy frontiers: Building climate-economic resilience in the global South. Geneva: United Nations.
UNESCO GEM Report. (2025). A message for education leaders about the unfinished promise of Education for All. Paris: UNESCO.
World Bank. (2025). Gini index - various countries. Washington, DC: World Bank Group.
Dokumen dan Blog Kebijakan
Acosta, F. (2025, February 26). Global North, Global South, and SDG 4: Unpacking the Challenges of Educational Change in Latin America. NORRAG Blog.
Österreichische Forschungsstiftung für Internationale Entwicklung. (2025). Critical reflections on the EU education and skills policies in Africa with a focus on the Global Gateway (Policy Note). Vienna: ÖFSE.
UKFIET. (2025, November 6). Education and climate justice: Advancing a shared agenda for COP30 and beyond. UKFIET Blog.
World Education Blog. (2025, November 5). Beyond donor funding: Three ways African countries can build sustainable education systems.
Artikel Media dan Data
AllAfrica. (2025, July 18). Africa: 3.4 Billion People Left Behind - Interest Payments Now Outpace Education Spending in Half the World.
Center for Global Development. (2026, February 24). A Landscape Analysis of Green Skills TVET Providers: Focus on Côte d’Ivoire, Ghana, Kenya, Morocco, and Senegal.
University World News. (2025, June 12). African edusphere must get its green act together, guru warns.
Jurnal ini merupakan hasil sintesis penelitian yang dilakukan sebagai bagian dari studi tentang ekonomi pendidikan berkelanjutan dan hubungan Utara-Selatan dalam konteks pembangunan global kontemporer.
Komentar
Posting Komentar